8 Bulan Pasca Longsor, Warga Lengkong Sukabumi Masih Bertahan di Tenda
Sukabumi, Fokus Tajam || Delapan bulan sudah berlalu sejak bencana tanah longsor menerjang dua kampung di Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, namun nasib puluhan kepala keluarga (KK) korban masih belum jelas. Hingga kini mereka masih bertahan di tenda pengungsian, menunggu kepastian pembangunan hunian sementara (huntara) maupun hunian tetap (huntap).
Kondisi para pengungsi kian memprihatinkan. Cuaca yang tak menentu membuat mereka kesulitan beraktivitas. Saat hujan, jalanan berubah menjadi lumpur, sementara ketika panas menyengat, suhu di dalam tenda terasa seperti oven.
Seorang warga melalui akun Facebook INFO Lengkong mengeluhkan, banyak pengungsi memilih tidur di bawah pohon pada siang hari karena tidak tahan dengan hawa panas.
“Sekitar jam 9 sampai jam 2 siang, kalau panas banget, nggak kuat di tenda. Jadi pada pindah ke bawah pohon,” tulisnya, Sabtu (13/9/2025).
Keluhan lain datang saat angin kencang menerpa tenda. “Rasanya kayak diguncang gempa, gebuk-gebuk kena angin,” ujar seorang pengungsi sambil menunjukkan kondisi tenda yang nyaris roboh.
Meski suplai air bersih masih tersedia, jumlahnya terbatas. Warga harus rela antre panjang, terutama menjelang Magrib dan subuh. “Air Alhamdulillah ada, tapi tetap rebutan, antrinya bisa lama,” kata seorang pengungsi lain.
Camat Lengkong, Ade Rikman, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, warga terdampak berasal dari Kampung Cirehong dan Kampung Cicau I, Desa Langkapjaya.
“Di Cicau ada sekitar 5 KK di tenda, di Cirehong 17 KK. Total sekitar 28 KK terdampak, sebagian masih bolak-balik ke rumah walaupun kondisinya sudah tidak layak huni,” jelasnya.
Ia menambahkan, lokasi pemukiman dua kampung tersebut memang rawan longsor karena dikelilingi tebing pasir. “Selain rumah yang rusak, ada juga beberapa rumah lain yang kondisinya terancam,” ungkap Ade..
Timred

