Dugaan Pengerjaan Asal-Asalan Proyek Drainase di Purwakarta, Material Bekas Dipasang Kembali
Purwakarta, Fokus Tajam || Proyek perbaikan saluran sistem peningkatan drainase perkotaan paket 3 dengan nomor SPK 83-SDA/PL.DPUTR.IX/2025 yang dikerjakan oleh CV Sakata menuai sorotan tajam. Pasalnya, ditemukan indikasi penggunaan kembali material bekas reruntuhan tebing penahan tanah yang sebelumnya ambruk.
Ketua DPD MIOI, Ronal, mempertanyakan transparansi proyek tersebut. Menurutnya, sebelum pekerjaan dimulai seharusnya dilakukan pengukuran detail mengenai berapa panjang saluran yang akan diperbaiki. “Dalam RAB tidak terlihat jelas berapa meter saluran yang dikerjakan. Padahal anggaran yang digunakan mencapai ratusan juta rupiah. Ini rawan menimbulkan pemborosan dan kelebihan keuntungan bagi kontraktor,” ujarnya.
Dari hasil pengecekan lapangan, hanya sebagian kecil material yang diganti dengan batu baru, sementara sebagian besar masih memanfaatkan batu bekas reruntuhan. Kondisi ini dinilai bertentangan dengan ketentuan teknis yang mewajibkan seluruh material harus baru. “Kalau dilihat, volume pekerjaan yang dilakukan tidak sebanding dengan nilai anggaran yang mencapai sekitar Rp200 juta,” tambah Ronal.
Ironisnya, pekerjaan yang berlangsung di Jalan Raya Ciaeruh, tepat di seberang Kantor Dishub Purwakarta, hanya mencakup beberapa meter saja, tidak sampai puluhan meter sebagaimana semestinya. Lebih jauh, keberadaan pengawas proyek di lapangan pun tidak terlihat.
Ketika dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Kepala Bidang SDA DPUTR Purwakarta, Rahmat Amin, enggan memberikan tanggapan. Sikap ini dianggap tidak kooperatif oleh sejumlah media.
Sorotan juga datang dari Ketua Ormas Banspati DD serta Ketua Media yang menegaskan agar proyek tersebut segera ditinjau ulang. Mereka meminta Bupati Purwakarta, Om Zend, untuk turun langsung melakukan sidak guna memastikan anggaran daerah tidak disalahgunakan demi kepentingan pribadi maupun kelompok.
“Kami mendorong aparat penegak hukum untuk memberikan efek jera terhadap oknum yang bermain-main dengan proyek daerah,” tegas salah satu tokoh ormas.
red

